Selasa, 28 Mei 2013

PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG ANTENATAL CARE



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Maju dan berkembangnya suatu bangsa tergantung dari beberapa faktor diantaranya adalah pengetahuan dan tingkat pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat sebagai penduduk dari  bangsa/negara tersebut. Demikian pula dengan pendidikan tentang kesehatan khususnya pengetahuan yang dimiliki oleh ibu hamil dalam mengatur laju pertumbuhan penduduk. Pengetahuan tentang kesehatan ibu hamil dapat diperoleh tidak harus melalui jenjang pendidikan tertentu. Secara kodrati, selain alasan tertentu setiap wanita pasti akan mengalami kehamilan, melahirkan dan menyusui. Untuk memperoleh pengetahuan tentang kehamilan kini dapat diperoleh dan diakses melalui internet secara bebas (Soekidjo, 2005). Dalam rangka menekan Angka Kematian Ibu (AKI), pemerintah telah banyak menetapkan strategi maupun kebijakan berupa program peningkatan kesehatan termasuk penigkatan asuhan antenatal care yang telah lebih dikenal dengan ANC yang merupakan perawatan yang diberikan kepada ibu selama hamil dan merupakan salah satu pilar dalam upaya “safe motherhood ”(sarwono prawihardjo, 2002:7). Tujuan utama adalah mengurangi permasalahan kesehatan yang dihadapi oleh Ibu dan Anak. Selain mengembangkan ilmu dan tehnologi kebidanan juga meningkatkan pelayanan antenatal pada semua fasilitas pelayanan kesehatan dengan baik dan bermutu serta menjangkau seluruh kelompok sasaran.
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator penting dalam menilai tingkat derajat kesehatan masyarakat di suatu Negara, oleh karena itu pemerintah memerlukan upaya sinergis dan terpadu untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu di Indonesia khususnya mencapai target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2013 yaitu sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup. Asumsi ini tentunya menjadi tantangan yang cukup berat bagi pemerintah Indonesia (Depkes RI, 2007) Lahir tumbuh dan berkembang kita dapat ketahui, sedangkan kematian seseorang tidak kita ketahui kapan dan bagaimana cara orang itu nantinya meninggal. Demikian pula  ibu saat melahirkan tanda–tanda baik dan buruk itu dapat kita lihat. Jika saja waktu hamil ibu melakukan pemeriksaan kehamilan (Antenatal Care) maka hal buruk tidak akan dialami ibu maupun bayi. Dalam pemeriksaan Antenatal Care ibu mendapatkan pengetahuan dan pendidikan yang berkaitan dengan kesehatan ibu hamil, menyusui dan kembalinya kesehatan alat reproduksi serta menyampaikan betapa pentingnya interval kehamilan berikutnya sehingga dapat tercapai sumber daya manusia yang diharapkan (Manuaba IBG 2007:88-93)
Pemeriksaan Antenatal adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk memeriksa keadaan ibu dan janin secara berkala yang diikuti upaya koreksi/deteksi terhadap penyimpangan yang ditemukan. Tujuannya adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilan, persalinan dan nifas dengan baik dan selamat. Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan ibu hamil, yaitu gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan cakupan pelayanan K4 merupakan gambaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai standar paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada triwulan pertama, sekali pada triwulan kedua, dan dua kali pada triwulan ketiga. Pelayanan antenatal diberikan oleh dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat selama masa kehamilan sesuai standar pelayanan antenatal yang meliputi  10 T (sepuluh T) yaitu timbang berat badan, ukur tekanan darah, pemberian imunisasi tetanus toxoid (TT), ukur tinggi fundus uteri, pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama hamil, tes penyakit menular (PMS), nilai status gisi (ukur lingkar lengan atas), tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ), tatalaksana kasus dan temu wicara (Saifuddin 2006). Seperti diketahui bahwa dalam rangka meningkatkan cakupan kunjungan, maka ibu hamil minimal harus 4 kali melakukan pemeriksaan kehamilannya. Untuk mencapai cakupan tersebut perlu dilakukan langkah-langkah : 1) Pendataan bumil yang tepat dan akurat, 2) Pembuatan kantong persalinan, 3) Pemberian pelayanan antenatal, 4) Meningkatkan kualitas pencatatan pelaporan serta pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi, dan 5) Menetapkan suatu peraturan/ keputusan yang mengatur kewajiban setiap keluarga untuk senantiasa melakukan pemeriksaan terhadap seluruh keluarganya khususnya kesehatan ibu dan anaknya.  
Berdasarkan hasil survey demografi dan kesehatan tahun 2008-2009, Angka Kematian Ibu (AKI) mencapai 228 per 100.000 kelahiran hidup. Bila dibandingkan dengan target yang dicapai tahun 2010 maka masih jauh dari apa yang diharapkan yaitu 125 per 100.000 kelahiran hidup dan angka tersebut 3-6 kali lebih besar dari Negara ASEAN lainnya. Angka Kematian Ibu (AKI) di Propinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2009  adalah 269 per 100.000 dan tahun 2010  246 per 100.000 kelahiran hidup jika dibandingkan secara nasional maka angka tersebut sesungguhnya bencana yang membutuhkan penanganan segera dan serius. Faktor penyebab tingginya angka tersebut adalah pendarahan, pereklamsi/eklamsi, infeksi jalan lahir serta partus lama. Sedangkan untuk Kabupaten Ende, Angka Kematian Ibu pada tahun 2009 sebanyak 11 kasus dari 5566 Kelahiran Hidup atau 197,6/100.000 Kelahiran Hidup. Kalau dilihat secara absolut jumlah kematian ibu sangat sedikit hanya 9 orang selama setahun dengan segala penyebabnya jauh di bawah angka kematian akibat penyakit malaria, TBC, dan kecelakaan rudapaksa. Tetapi Angka Kematian Ibu menjadi perhatian kita karena angka ini memberi banyak makna. Bila di suatu masyarakat ada kematian ibu tinggi artinya pada masyarakat tersebut kurang ada perhatian/ kepedulian pada kesehatan ibu hamil, bersalin dan pendidikan masyarakat tentang kesehatan juga rendah. Cakupan Pelayanan K1 di Kabupaten Ende pada tahun 2009 sebesar 96%, telah mencapai target SPM, hal ini berarti akses pelayanan kepada sasaran ibu hamil cukup baik, namun tingginya cakupan K1 tidak diikuti oleh meningkatnya cakupan K4. Pada tahun 2009 cakupan K4 sebesar 72% dimana masih jauh dari target SPM Tahun 2009 yaitu 84,5%. Cakupan ibu hamil Kabupaten/Kota se-Provinsi NTT tahun 2011, presentase rata-rata cakupan kunjungan ibu hamil (K1) sebesar 89,8%, sedangkan berdasarkan Riskesda tahun 2010 K1 sebesar 85,9%. Presentase rata-rata cakupan kunjungan ibu hamil (K4) sebesar 65,7% sedangkan berdasarkan hasil Riskesda 2010 cakupan K4 sebesar 44,4%. Persentase cakupan K1 > 100% adalah Sumba Tengah (102,9%) dan Kabupaten Sabu Raijua (102,4%), sedangkan persentase cakupan K1 terendah di Kabupaten Sikka (81,9%). Persentase cakupan K4 tertinggi adalah di kabupaten Rote Ndao (78,1%) sedangkan cakupan terendah di kabupaten Nagekeo (32,5%).
Melalui ANC diharapkan deteksi dini dan perawatan kehamilan dapat dilaksanakan dengan baik dan berkualitas sehingga komplikasi yang terjadi pada saat kehamilan dapat dicegah. Demikian pula tindakan pencegahan kematian pada ibu hamil dan janinnya dapat dilaksanakan sesuai perencanaan penanganannya. Seluruh tenaga kesehatan menghendaki angka kecukupan sehat khususnya Ibu dan Anak terus mengalami peningkatan pada setiap tahun. Namun harapan tersebut tetap menjadi sebuah impian karena banyak faktor yang menghambat pencapaian diantaranya kurangnya pengetahuan ibu itu sendiri tentang manfaat melakukan pemeriksaan kehamilannya.  Berdasarkan uraian tersebut di atas maka penulis merasa tertarik untuk mengetahui lebih dalam bagaimana pemahaman/pengetahuan ibu hamil tentang Antenatal Care (pemeriksaan kehamilan) sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi cakupan K4, sehingga petugas kesehatan dapat menetapkan suatu strategi pelayanan yang memadai guna meningkatkan kunjungan secara menyeluruh bagi ibu hamil di pusat layanan kesehatan.


B.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan masalah adalah “Bagaimana pengetahuan Ibu Hamil tentang Antenatal Care dalam mempengaruhi Cakupan K4 di Puskesmas Rewarangga?”

C.    Tujuan Penelitian

1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang Antenatal Care.
2.    Tujuan Khusus
Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan ibu hamil tentang manfaat Antenatal Care dan faktor yang mempengaruhi pencapaian cakupan K4.

D.   Manfaat Penelitian

1.    Manfaat  Teori
Hasil penelitian dapat digunakan untuk meningkatkan cakupan kunjungan K4 dan menambah wawasan bagi peneliti serta sebagai bahan pembanding bagi mahasiswa atau peneliti dalam melaksanakan penelitian lapangan  berikutnya.
2.    Manfaat Praktek
1.    Bagi Peneliti
Merupakan pengalaman berharga dalam rangka menambah wawasan pengetahuan serta pengembangan diri khususnya dalam bidang penelitian lapangan
2.    Bagi Puskesmas
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu bahan masukan bagi pengelola KIA untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil yang datang ke Puskesmas Rewarangga tentang Antenatal Care.
3.    Bagi Profesi
Hasil penelitian dapat meningkatkan mutu pelayanan kebidanan pada seluruh fasilitas layanan kesehatan mulai dari unit yang terkecil hingga pada pusat pelayanan terbesar seperti Rumah Sakit Umum.
4.    Bagi Institusi
Selain sebagai bahan ilmiah dan informasi tambahan bagi peneliti juga dapat dijadikan sebagai bahan pembanding  dalam penelitian sejenis yang dilakukan oleh peneliti lain pada kegiatan penelitian dan pengembangan selanjutnya.

E.     Keaslian Penelitian

1.    Penelitian sejenis ini sudah pernah dilakukan oleh R.S Ratumakin pada tahun 2010 dengan judul “Studi Fenomenalogi Tentang Alasan Yang Mempengaruhi Cakupan K4 Pada Ibu Hamil Di Puskesmas Sikumana Kota Kupang dengan metode penelitian deskriptif kualitatif”, sedangkan desain penelitian yang dilakukan penulis dalam penelitian ini adalah metode survei.
2.    Kesamaan dengan penelitian tersebut di atas terletak pada variabel dependent, sedangkan perbedaannya adalah selain variabel dependent juga terletak pada waktu dan tempat penelitian.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.     PENGETAHUAN
Pengetahuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mengartikan segala sesuatu yang diketahui manusia tentang obyek tertentu. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui ilmu pendengaran, penglihatan, dan tindakan manusia yang didasari pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman orang lain atau melihat dan mendengar langsung melalui sarana komunikasi seperti radio, televisi, majalah dan surat kabar. Intinya bahwa pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga(Notoatmodjo, 2003).
Menurut Notoatmodjo, 2003  pengetahuan  mempunyai  6  tingkat yang dicapai dalam domain kognitif, yaitu: 1) Tahu (know), tahu diartikan sebagai pengingat sesuatu mated yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik terhadap seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh karena itu “Tahu” ini adalah merupakan tingkat yang paling rendah. 2) Memahami (comprehension), memahami diartikan sebagai sesuatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. 3) Aplikasi (aplicatiori) dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. 4) Analisis (analysis) analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi   atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih ada kaitannya satu sama lain. 5) Sintesis (synthesis), sintesis menunjuk pada sesuatu kemampuan untuk meletakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. 6) Evaluasi (evaluation), evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan klasifikasi atau penilaian terhadap suatu objek atau materi. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada.
Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil pengguna panca inderanya yang berbeda sekali dengan kepercayaan (believe), takhayul (superstitions) dan penerangan-penerangan yang keliru (Soekanto, 1990). Banyak faktor yang mempengaruhi pengetahuan manusia.  Faktor-faktor tersebut antara lain: 1) Usia, menurut Hurlock (1980) keadaan emosi pada usia belasan tahun sebagai periode “badai dan tekanan” yaitu satu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat perubahan fisik dan kelenjar, akan tetapi tidak semua individu pada usia ini mengalami badai dan tekanan, namun benar juga bila sebagai individu mengalami ketidakstabilan emosi. Hal ini dikemukakan juga oleh Gessel dan Hurlock (1980) bahwa usia belasan tahun seringkali mudah marah dan emosinya cenderung "meledak-ledak" dan kurang bisa mengendalikan perasaannya. Pada usia 20 sampai 30 tahun individu telah menunjukan kematangan emosi, dimana individu menilai suatu situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional. Individu yang emosinya matang memberikan reaksi emosi yang stabil, tidak berubah-ubah dari satu emosi ke emosi lain atau suasana hati ke suasana hati yang lain, pada usia ini kebanyakan individu telah mampu   memecahkan   masalah   dan   mengambil   suatu keputusan dengan cukup baik (Sulaeman, 1982). 2) Pekerjaan, pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan imbalan atau jasa yang diperhitungkan dengan uang (Notoatmodjo, 2005 :10) Ibu hamil yang bekerja merupakan sebab-sebab mendasar yang mempengaruhi frekuensi kehamilan, karena berhubungan dengan ada atau tidaknya waktu untuk kunjungan pemeriksaan kehamilan. Bahwa ibu hamil yang tidak bekerja yang paling banyak melakukan pemeriksaan kehamilan. Ternyata kesibukan ibu yang bekerja juga mempengaruhi partisipasi ibu dalam melakukan pemeriksaan kehamilan. (Heru, BKKBN 2006). Penghasilan keluarga merupakan faktor utama yang memungkinkan bagi seseorang untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan (Green: 1980), selain itu ibu yang bekerja di sektor formal memiliki akses yang lebih baik terhadap berbagai informasi termasuk kesehatan. 3) Pendidikan, pendidikan merupakan proses menumbuh kembangkan seluruh kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran, sehingga dalam pendidikan itu perlu dipertimbangkan umur (proses perkembangan klien) dan hubungan dengan proses belajar. Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih menerima ide-ide dan tehnologi baru (SDK1J997) Notoatmodjo mengartikan pendidikan adalah suatu proses pembentukan kecepatan seseorang secara intelektual dan emosional kearah dalam sesama manusia . Pendidikan juga diartikan sebagai suatu usaha sendiri untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah serta berlangsung seumur hidup (Notoatmodjo, 2003) Sedangkan Arinkunto dalam bukunya mengartikan pendidikan merupakan proses pertumbuhan semua kemampuan dan prilaku melalui pengajaran sehingga dalam pendidikan perlu di pertimbangkan umur (proses perkembangan) dan hubungannya dengan proses belajar tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi presepsi seseorang untuk lebih mudah menerima ide-ide dan teknologi baru (Arinkunto, 2002). Dari pendapat tentang pendidikan tersebut di atas, ternyata kemampuan intelektual juga mempengaruhi ibu hamil dalam mengikuti program keluarga berencana. 4) Paritas, Jumlah anak yang sudah dilahirkan oleh ibu baik hidup maupun mati. (Heru, BKKBN 2006). Seorang ibu dengan paritas lebih dari lima biasanya memiliki kondisi kesehatan fisik yang tidak prima lagi, apabila jika jarak melahirkan antara satu dan yang berikutnya kurang dari 2 tahun. Kesesuaian ini dikarenakan ibu yang mempunyai anak 1 sampai 2 orang lebih memperhatikan kehamilannya karena pengalaman sebelumnya yang mungkin kurang baik sehingga ada perasaan takut akan hal-hal yang akan terjadi kemudian, selain itu ibu ingin memperoleh kepastian tentang bayinya dalam keadaan sehat selalu karena kehamilan ini merupakan suatu hal yang sudah lama diinginkannya. Bagi ibu yang mempunyai anak > 3 orang merasa bahwa kehamilannya dalam batas normal sesuai dengan pengalaman kehamilan sebelumnya, padaha! dalam kenyataannya tidak selalu kehamilan satu dan berikutnya dilewati dalam keadaan yang sama. (Heru, BKKBN,2006). Setiap ahli mengartikan paritas menurut cara pandang masing-masing sesuai hasil penelitian yang mereka lakukan. Menurut Prawiroharjo Paritas adalah jumlah kelahiran hidup atau mati dari suatu kehamilan lebih dari 28 minggu yang pernah dialami ibu (Prawirohardjo, 1999). Sedangkan menurut Saifuddin dan Surjaningrat mengartikan Paritas adalah keadaan wanita berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan, paritas 2-3 merupakan paritas aman ditinjau dari sudut kematian (Saifuddin & Surjanigrat, 1999).

B.    KONSEP DASAR KEHAMILAN

Kehamilan adalah proses pertumbuhan dan perkembangan janin intra uteri mulai sejak kehamilan dan berakhir pada permulaan persalinan (Manuaba, 1998). Saat terjadi pembuahan, ovum dilepas dari ovarium akan ditangkap oleh fimbrae kemudian masuk ke ampula tuba, selanjutnya ovum akan menunggu dibuahi oleh sperma selama 2 X 24 jam. Setelah sperma ditumpahkan dimulut rahim jutaan sperma akan mencari ovum dan hanya ada satu sperma yang dapat menembusi lapisan korona radiata. Setelah ovum dan sperma bertemu lalu terjadi pembuahan yang kemudian membentuk zigot. Dalam perjalanan menuju uterus, hasil konsepsi tersebut akan mengalami segmentasi yaitu zigot pada hari ke tiga akan membelah menjadi morula, dan hari ke tujuh membelah menjadi blastula dan setelah itu menjadi trofoblas yang kemudian bernidasi pada endometrium dan akan diberi makan oleh korpus luteum sampai umur kehamilan 16 minggu, karena pada saat itu placenta belum terbentuk lengkap dan setelah 16 minggu fungsi korpus lutuem akan diganti placenta (Manuaba, 1998).
Seorang wanita akan dikatakan hamil bila mengalami tanda-tanda seperti: terlambat haid, muntah dan merasa mual, meningkatnya frekuensi BAK, payudara tegang, adanya gerakan janin, ibu mengalami kelelahan dan lain-lain (Manuaba, 1998). Masa kehamilan dibagi menjadi tiga trimester yaitu trimester I kurun waktunya dihitung dari proses konsepsi sampai dengan 3 bulan usia kehamilan (12 minggu), trimester II kurun waktunya dihitng dari bulan ke 4-6 bulan usia kehamilan (16-24 minggu), dan timester III kurun waktunya dihitung dari bulan ke 7-9 bulan usia kehamilan ( 25-38 minggu) (Novaria & Budi, 2007).
Perubahan fisik dan perkembangan selama kehamilan yaitu: 1) Trimester I, ibu hamil akan mengalami mual pada pagi hari, dengan perut terasa tidak enak bahkan sampai muntah. Mual dapat terjadi sebagai reaksi terhadap bau tertentu atau makanan dan minuman. Normalnya akan  merasa  lelah terus menerus dan tidur sampai 12 jam sehari. Payudara semakin membesar dan terasa nyeri, puting susu atau daerah areola mulai berwarna gelap, pembesaran vena pada vulva dan vagina, sering BAK. Perubahan emosi (suasana hati) yaitu kelihatan gembira dan kwatir. 2) Trimester II, perubahan fisik yang terjadi pada trimester II yaitu kurangnya BAK, mual pada pagi hari sudah berakhir, nafsu makan meningkat, payudara bertambah besar, nyeri berkurang. Perut bagian bawah bertambah besar pada akhir bulan ke empat, pada bulan ke lima bayi terasa bergerak, denyut jantung meningkat karena peningkatan volume darah dan kebutuhan untuk mendapatkan O2 bagi pertumbuhan janin. Pada bulan ke enam, bagian perut mulai terasa gatal kerna kulit mulai merenggang untuk mengakomodasi janin yang berkembang terus. Terdapat tanda bergaris pada perut (strie) dan sakit pinggang. Rasa cemas akan meningkat sejalan dengan usia kehamilan. 3) Timester III, pada usia kehamilan trimester III terasa bayi mulai menendang dengan keras,  gerakannya mulai kelihatan. Rahim mulai berkontraksi secara ringan, kontraksi ini disebut Braxton Hiks Contraxion. Pada bulan ke delapan paudaya tidak membesar lagi tetapi caitan putih encer mulai keluar (kolostrum). Pada bulan terakhir kehamilan pengeluaran cairan vagina mulai meningkat dan lebih kental. Ibu merasa sesak nafas karena pembesaran uterus yang menekan diafragma, terjadi peningkatan frekwensi berkemih dan konstipasi. Hal ini terjadi karena disebabkan pembesaran uterus yang menekan rektum dan kandung kemih. Ibu merasa kelelahan, pegal pada daerah punggung dan pinggang. Perubahan emosional pada bulan terakhir kehamilan biasanya sang ibu merasa gembira bercampur takut karena kelahiran sudah dekat (Novaria & Budi, 2007).
Selama masa kehamilan, seorang ibu memperhatikan nasihat-nasihat penting yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Nasihat yang perlu diperhatikan antara lain: 1) Trimester I, ibu hamil dianjurkan untuk makan yang cukup (untuk pertumbuhan janin), jangan makan berlebihan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Jika merasa mual muntah ibu disarankan untuk berkumur menggunakan air hangat dan makan manakan dalam bentuk kering. Jika merasa pusing saat bangun tidur, duduk di tempat tidur dahulu sampai rasa pusing hilang. Ibu hamil dilarang merokok karena di dalam rokok mengandung zat-zat  adaptif yang membahayakan janin. Pada trimester I ibu hamil disarankan sebaiknya mengikuti program senam hamil. Bila tidak dapat melakukan, latihan ringan dapat dilakukan seperti berdiri, jongkok, terlentang, kaki diangkat dan melatih pernapasan. Ibu hamil dapat melakukan aktifitas seperti biasa asalkan jangan sempai terlalu lelah. Tidur siang baik untuk kesehatan dan rekreasi di tempat yang bersesakan dilarang. Jika ingin bersetubuh atau koitus harus berhati-hati terlebih bila ada riwayat abortus. Pada kehamilan trimester I ibu hamil harus memeriksakan kehamilannya setiap bulan sekali dan melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui penyakit yang mempengaruhi kehamilan dan komplikasi serta imunisasi tetanus I. 2) Trimester II, ibu hamil dianjurkan untuk makan secukupnya dan disarankan untuk melakukan senam hamil. Bila tidak dapat melakukan, latihan ringan dapat dilakukan seperti berdiri, jongkok, terlentang, kaki diangkat dan melatih pernapasan.  Disarankan untuk memakai pakaian yang longgar dan tidak ada ikatan dalam perut, BH yang menyokong payudara dan tidak memakai sepatu bertumit tinggi, istirahat secukupnya, boleh melakukan hubungan badan atau koitus tetapi harus tetap berhati-hati. Pada trimester II ibu hamil harus memeriksakan kehamilannya setiap bulan sekali. 3) Trimester III, pada kehamilan trimester III ibu hamil dianjurkan untuk banyak makan sayur dan buah, nasi harus dikurangi. Jalan pagi untuk menguatkan otot paha, jongkok untuk menguatkan otot panggul, vulva dan vagina. Kalau bekerja jangan sampai terlalu lelah. Memakai pakaian yang longgar dan tidak ada ikatan dalam perut, BH yang menyokong payudara dan tidak memakai sepatu bertumit tinggi. Pada minggu terakhir kehamilan harus berhati-hati jika ingin melakukan koitus untuk mencegah terjadinya ketuban pecah dini (KPD). Bila ketuban sudah pecah maka koitus dilarang. Ibu hamil disarankan untuk memeriksakan kehamilannya  dua minggu sekali sampai ada tanda-tanda kelahiran. Imunisasi tetanus II dan nasihat tentang tanda-tanda inpartu serta nasihat untuk melahirkan di Rumah Sakit atau Puskesmas yang ditangani oleh tenaga medis (Manuaba, 1998).
Perkembangan janin selama masa kehamilan yaitu: 1) Usia kehamilan 5 minggu, berbentuk kantong lengkap dengan diameter 1 cm yang terbungkus oleh vili korialis, ciri-ciri khas manusia belum ditemukan. 2) Usia kehamilan 6 minggu, kantong berdiameter 2,3 cm, berat 1 gram, kepala membesar, terbentuk tonjolan lengan dan tungkai, jantung primitif mulai berfungsi, denyut jantung terdengar lewat alat elektronik, sirkulasi dalam bentuk yang primitif, terbentuk hubungan antara pembuluh darah dalam karion dan antar pembuluh darah yang sudah tumbuh dengan body stalk. 3) Kehamilan 10 minggu, panjang embrio 4 cm, genitalia ekterna terlihat, tangan dan kaki sudah mulai dikenali, terlihat bentuk manusia. 4) Usia kehamilan 12 minggu, panjang janin 8 cm, berat janin 15 gram, jari tangan serta jari kaki, mata dan telinga, sirkulasi dan ginjal sudah terbentuk, kelenjar endoktrin dan sistim syaraf (respons refleks) mulai berfungsi. 5) Usia kehamilan 16 minggu, panjang janin 16 cm, berat 110 gram, jenis kelamin mulai dikenali, kuku jari tangan dapat terlihat, denyut jantung terdengar jelas, gerakan janin teraba. 6) Usia kehamilan 20 minggu, panjang janin 22 cm, berat 300 gram, verniks pada kulit, lanugo pada badan, alis mata sudah terbentuk. 7) Usia kehamilan 24 minggu, panjang 30 cm, berat 600 gram, kulit keriput, lemak terkumpul, perkembangan otak berlanjut. 8) Usia kehamilan 28 minggu, panjang janin 35 cm, berat 1000 gram, jika lahir bayi ini akan kuat dan menangis. 9) Usia kehamilan 32 minggu, panjang janin 42 cm, berat 1700 gram, kulit berwarna merah, kulit keriput. 10) Usia kehamilan 36 minggu, panjang janin 46 cm, berat 2500 gram, kuku sudah mencapai ujung jari tangan. 11) Usia kehamilan 40 minggu, panjang 50 cm, berat 3400 gram, tubuh bayi sudah terbungkus jaringan lemak, kulit berwarna merah dan tidak keriput, semua organ sudah berfungsi kecuali paru-paru (Fahrer, 2001).
C.    ANTENATAL CARE
1.   Pengertian
Antenatal care adalah suatu program yang terencana berupa observasi, edukasi dan penanganan medis pada ibu hamil ,untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan ( Depkes, 2000 ). K4 adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang ke empat atau lebih, untuk mendapat pelayanan antenatal sesuai standar yang ditetapkan, dengan syarat minimal satu kali kontak pada triwulan I, minimal satu kali kontak pada triwulan II, dan minimal dua kali kontak pada triwulan III (Suriani, 2002). Tujuan K4 adalah untuk mengetahui cakupan pelayanan antenatal secara lengkap (memenuhi standar pelayanan antenatal dan menempati waktu yang ditetapkan ) yang menggambarkan tingkat perlindungan ibu hamil di suatu wilayah, disamping itu menggambarkan kemampuan menajemen ataupun kelangsungan KIA ( Suriani, 2008 ).
Cakupan ibu hamil ( Cakupan K4 ) adalah presentasi ibu hamil di suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu, yang mendapat pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi pemberian minimal satu kali pada triwulan I, minimal satu kali pada triwulan II,dan minimal dua kali pada triwulan III (Prawirohardjo, 2008). Faktor–factor yang mempengaruhi rendahnya cakupan K4 diantaranya adalah sosial budaya, pendidikan, ekonomi, jarak, dan presepsi masyarakat. Cara penanggulangannya adalah pemerintah telah membuat program jamkesmas dan jampersal dengan tujuan untuk meningkatkan aksebilitas masyarakat miskin, sedangkan bidan melakukan kunjungan rumah, penyuluhan/konseling, dan membina kemitraan dengan dukun terlatih tentang manfaat pemeriksaan kehamilan.

Menurut Manuaba ANC (Antenatal Care) yaitu pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. (Manuaba, 1998: 129). Sedangkan Saifuddin mengartikan ANC (Antenatal Care) adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan kepada ibu hamil untuk memonitor, mendukung kesehatan ibu hamil serta mendeteksi kehamilan ibu secara dini. (Saifuddin, 2002 : 89)
2.    Pengawasan dan Pemeriksaan Antenatal Care
Bidan memberikan asuhan antenatal bermutu tinggi untuk mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan yang meliputi: deteksi dini, pengobatan atau rujukan dari komplikasi. (Depkes RI, 2007 : 12) Ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin sejak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan. (Saifuddin, 2002 : 89) Pengawasan antenatal dan postnatal sangat penting dalam upaya meminimalkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun perinatal. (Manuaba, 1998 ; 128). Pengawasan antenatal memberikan manfaat dengan ditemukannya berbagai kelainan yang menyertai kehamilan secara dini sehingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkah-langkah pertolongan dalam persalinan. (Manuaba, 1998 : 128). Adapun tujuan pengawasan antenatal adalah : 1) Mengenal dan menangani sedini mungkin penyulit yang terdapat saat kehamilan, saat persalinan, dan kala nifas. 2) Mengenal dan menangani penyakit yang menyertai hamil, persalinan dan kala nifas. 3) Memberikan nasehat dan petunjuk yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, kala nifas, laktasi, dan aspek keluarga berencana. 4) Meminimalkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.
Pemeriksaan antenatal adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan untuk memeriksa keadaan ibu dan janin secara berkala, yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan. Tujuannya untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilan, persalinan dan nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat. Pemeriksaan antenatal dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan terdidik dalam bidang kebidanan yaitu pembantu bidan, bidan, dokter dan perawat. (Mochtar, 1998 : 47)
Langkah - langkah Pemeriksaan (Mochtar, 1998 : 48)
1)     Anamnesa meliputi anamnesa identitas, anamnesa umum seperti keluhan tentang haid, tentang kehamilan, persalinan sebelunmya.
2)     Inspeksi dan pemeriksaan fisik diagnostik meliputi a) Pemeriksaan seluruh tubuh secara baik. b) Tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan dan sebagainya
3)     Palpasi untuk menentukan besar dan konsistensi rahim, bagian-bagian janin, letak janin, gerakan janin, kontraksi rahim, dan his. Palpasi yang sering digunakan adalah secara Leopold yaitu : a) Leopold I: Untuk menentukan TFU sehingga perkiraan umur kehamilan yang dapat disesuaikan dengan tanggal HPHT dan untuk mengetahui bagian apa yang terletak di fundus uteri. b) Leopold II: Untuk menetapkan bagian apa yang terdapal di bagian samping kanan dan kiri uterus ibu. c) Leopold III: Untuk mendapatkan bagian apa yang terdapat pada symphisis pubis. d) Leopold IV: Untuk mendapatkan sejauh mana bagian dari bawah janin masuk ke dalam PAP (Jika kedua tangan pemeriksa bertemu bagian terendah belum masuk PAP yang disebut konvergen tapi apabila kedua tangan tidak bertemu maka bagian terendah sudah masuk PAP yang disebut divergen).
4)    Auskultasi
Digunakan stetoskop monoral atau dopler untuk mendengarkan denyut jantung janin. Punctum maximum denyut jantung janin ditetapkan sekitar scapula.  Jumlah denyut jantung normal antara 120 sampai 160 kali permenit.
5)    Perkusi tidak begitu banyak artinya, kecuali bila ada suatu indikasi. Pemeriksaan    kehamilan   atau   ANC    (Antenatal    Care)    yang berkualitas dapat dilihat dari: a) Kunjungan ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya. b) Pemeriksaan kehamilan dengan standar “10 T”. c) Peralatan Pelayanan Kesehatan. (Saifuddin, 2002:90)

3.    Standar Pelayanan 10  T
Dalam antenatal care yang menjadi pelayanan/asuhan standar minimal termasuk “10 T” tujuannya menjaga agar ibu sehat selama kehamilan, persalinan dan nifas serta mengusahakan bayi yang dilahirkan sehat, yaitu:  1) Timbang berat badan. 2) Tekanan darah. 3) Tinggi fundus uteri. 4) Tetanus Toxoid ( TT) lengkap. 5) Pemberian Tablet zat besi. 6) Tes terhadap penyakit menular. 7) Nilai status gisi (ukur lingkar lengan atas), 8) Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ). 9) Tatalaksana kasus. 10) Temu wicara dalam persiapan rujukan. Pelayanan/asuhan antenatal tersebut hanya dapat diberikan oleh tenaga kesehatan profesional dan tidak dapat diberikan oleh dukun bayi. (Saifuddin, 2002 : 90).  Pelayanan antenatal tersebut di atas dapat diuraikan sebagai berikut:

a.      Timbang berat badan
Berat badan ibu hamil yang sehat atau normal akan bertambah antara 11,5 - 16 kg. Peningkatan berat badan sangat menentukan kelangsungan hasil akhir kehamilan, Bila ibu hamil kurus atau gemuk sebelum hamil akan menimbulkan resiko pada janin terutama apabila peningkatan atau penurunan sangat menonjol. Bila sangat kurus maka akan melahirkan bayi BBLR, namun berat badan bayi dari ibu hamil dengan berat badan nornal atau kurus, lebih dipengaruhi oleh peningkatan atau penurunan berat badan sebelum hamil, Penambahan berat badan per trimester lebih penting dari pada penambahan berat badan keseharian. Pada trimester pertama peningkatan berat badan hanya sedikit, antara 0,7 - 1,4 kg. Pada trimester berikutnya akan terjadi peningkatan berat badan yang dapat dikatakan teratur, yaitu 0, 35 - 0,4 kg per minggu. (Salmah, 2005 : 113)
b.     Ukur Tekanan Darah
Mengukur tekanan darah untuk menilai apakah tekanan darah ibu tinggi atau normal. Apabila tekanan darah divatas 140/90 mmHg atau peningkatan diastol 15 mniHg / lebih sebelum kehamilan 20 minggu, atau paling sedikit pada pengukuran dua kali berturut-turut pada selisih waktu 1 jam, berarti ada kenaikan nyata dan ibu perlu dirujuk. (DepkesRI, 2002 : 17)
c.      Ukur tinggi fundus uteri
Tinggi fundus uteri bertambah sesuai dengan pertumbuhan janin, tetapi paritas ibu, ukuran, dan kandung kemih yang penuh, letak lintang dan jumlah janin dapat mempengaruhi TFU. Tinggi fundus uteri dapat dikaji melalui dua cara:  (Johson, Ruth, 2004 : 3-4) 1) Menggunakan indikator tradisional yang menggunakan struktur anatomi pada abdomen. 2)  Mengukur dengan meteran. Dilakukan pengukuran dari tepi atas simpisis pubis ke bagian atas fundus, meteran mengikuti dinding perut. Ukuran ini biasanya sesuai dengan umur kehamilan dalam minggu setelah umur kehamilan 24 minggu. 
d.     Imunisasi TT
Ibu hamil perlu melakukan imunisasi tetanus, tujuannya agar anak lahir tidak terserang penyakit tetanus tali pusat. Penyakit ini sangat mematikan. Imunisasi tetanus ibu hamil diberikan sebanyak 2 kali yaitu TT pertama diberikan pada kunjungan pertama (trimester I alau trimester II) dan TT kedua 4 minggu setelah pemberian TT pertama, atau jika pada trimester II hanya mendapatkan TT I maka pada trimester bisa diberikan suntikan TT II scbelum usia kehamilan 32 minggu. (Saifuddin, 2001 : 95)
e.      Tablet Zat Besi
Dimulai dengan memberikan satu tablet sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) dan Asam folat 500 mg, minimal masing-masing 90 tablet. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama teh atau kopi, karena akan mengganggu penyerapan. (Saifuddin, 2002: 91)
f.      Tes penyakit menular
Penyakit hubungan seksual dapat menimbulkan infeksi akut (mendadak) yang memerlukan penanganan yang tepat oleh karena akan dapat menjalar ke alat genetalia bagian dalam (atas) dan menimbulkan penyakit radang panggul. Pengobatan yang kurang memuaskan akan menimbulkan penyakit menjadi menahun (kronis) dengan akibat rusaknya fungsi alat genetalia bagian dalam sehingga menimbulkan infeksi. (Manuaba, 1998:40)
g.     Nilai status gisi (ukur lingkar lengan atas)
h.      Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
Denyut jantung janin ditetapkan di sekitar skapula, interval 5 detik, dilanjutkan menghitung untuk 5 detik kedua, interval 5 detik, dilanjutkan menghitung untuk 5 detik ketiga. Jumlah perhitungan selama 3 kali setiap 5 detik dikalikan empat sehingga denyut jantung janin selama satu menit dapat ditetapkan.
i.        Tatalaksana kasus
j.      Temu Wicara
Memberikan penyuluhan kesehatan yang tepat untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat dan terencana serta menjadi orang tua yang bertanggung jawab. Bidan juga harus mengenal kehamilan resti/ kelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS/ infeksi HIV, dan memberikan penyuluhan kesehatan, bila ditemukan kelainan, bidan siap mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuk untuk tindakan. (Depkes RI, 2002 : 8 dan 16)
4.    Peralatan Pelayanan Kesehatan
Untuk melakukan pemeriksaan kehamilan di perlukan adanya peralatan medis yang mendukung terlaksananya pemeriksaan tersebut. Alat untuk pelayanan antenatal yang tersedia harus dalam keadaan baik dan berfungsi antara lain: stetoskop, tensi meter, meteran kain, timbangan, pengukur lengan atas dan stetoskop janin. (Depkes RI, 1999 : 16)
5.   Keuntungan ANC
Keuntungan ANC sangat besar karena dapat mengetahui berbagai resiko dan komplikasi hamil sehingga ibu hamil dapat diarahkan untuk melakukan rujukan ke Rumah Sakit. Dengan demikian diharapkan angka kematian ibu dan perinatal yang sebagian besar terjadi pada saat pertolongan pertama dapat diturunkan secara bermakna. (Manuaba, 1998 : 133).
D. KI  DAN  K4
1.  Pengertian
Kunjungan ibu hamil adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang ditetapkan. Kunjungan antenatal sebaiknya paling sedikit 4 kali selama hamil yaitu : 1) Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu). 2) Satu kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14 - 28)3) Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28 - 36) (Depkes RI, 2004 : 9).
K4 adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang ke empat kali atau lebih untuk manendapatkan pelayanan antenatal sesuai standart yang ditetapkan, dengan syarat minimal satu kali kontak pada triwulan I, minimal satu kali kontak pada triwulan II dan minimal dua kali kontak pada triwulan III ( Suriani,2008). Indikator K4 adalah pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali dengan distribusi pemberian pelayanan minimal satu kali  kontak padda triwulan I, minimal satu kontak pada triwulan II, dan minimal dua kali kontak pada triwulan III ( Depkes,2000). Tujuan K4 adalah untuk mengetahui cakupan pelayanan antenatal secara lengkap (memenuhi standar pelayanan antenatal dan menempati waktu yang ditetapkan) yang menggambarkan tingkat pendidikan ibu hamil di suatu wilayah, disamping itu menggambarkan kemampuan manajemen ataupun kelangsungan KIA ( Suriani,2008 ). Cakupan ibu hamil ( Cakupan K4 ) adalah presentase ibu hamil disuatu wilayah, dalam kurun waktu tertentu, yang mendapat pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi pemberian minimal satu kali pada triwulan I,minimal satu kali pada triwulan II,dan minimal dua kali pada triwulan III (Prawirohardo, 2008).
2.    Cara Perhitungan Cakupan Ibu Hamil K4
  Kunjungan ibu hamil K4 adalah ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi pemberian pelayanan selama periode kehamilannya. Dengan menggunakan rumusan ( Pradita,2003)
X100%
                 jumlah kunjugan ibu hamil
Cakupan K4 =
                                                            Jumlah sasaran ibu hamil dalam satu tahun
Keterangan :
Pembilang : Jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai standar minimal empat kali di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Penyebut      : Jumlah seluruh ibu hamil di suatu wilayah kerja yang sama dalam kurun waktu yang sama.
Ukuran / Konstanta  : presentase ( % ).
3.  Faktor – faktor yang mempengaruhi Cakupan K4
a. Sosial Budaya
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat (social). Kebudayaan merupakan keselurahan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan- kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat ( Edward,2003). Perwujudan kebudayaan antara lain pola prilaku sedangkan lingkungan adalah seluruh kondisi yang ada di sekitar manusia yang dapat mempengaruhi perkembangan dan prilaku orang atau kelompok (Nursalam, 2001) Pengaruh sosial budaya yang mempengaruhi ibu hamil tidak memeriksakan kehamilannya adalah kebiasaan di puskesmas atau di Bidan hanya memegang perut dengan anggapan agar kandungan ibu lebih kuat. Selaini itu dukun juga memberikan ramuan tradisional dari akar kayu yang telah direbus yang diminum selama 40 hari agar badan ibu tetap kuat dan segar ( Meutia, 1998 ).
b. Pendidikan
Pendididkan berarti bimbingan yang diberikan oleh seorang terhadap perkembangan orang menuju kearah cita – cita tertentu (Suarno, 1992). Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi, yaitu sebagai suatu kegiatan yang sisitimatik terarah kepada terbentuknya kepribadian (Hartono, 1998). Ibu hamil yang berpendidikan lebih mengerti dan mengetahui tentang perlunya pemeriksaan kehamilan dari pada ibu hamil yang tidk sekolah. Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi rendahnya cakupan K4 yaitu ibu hamil yang tidak berpendidikan atau tidak sekolah ,tidak mengerti tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan. Ibu hamil lebih suka di rumah dengan semua pekerjaan rumah, baginya sudah cukup untuk kesehatan diri dan bayinya ( Meutia,1998 ).
c. Ekonomi
Ekonomi adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang maksimal dengan pengorbanan minimal. Ekonomi biasanya lebih ditekankan pada suatu usaha seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya dan salah satu usaha adalah dengan bekerja. Dengan bekerja maka seseorang akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Ibu dengan anggota keluarganya tidak mampu membayar pelayanan kesehatan yang diberikan. Keadaan ekonomi sangat mempengaruhi ibu hamil memeriksa kehamilannya. Ibu hamil dengan ekonomi lemah tidak bisa memeriksakan kehamilannya dengan alasan tidak ada uang. Ibu hamil lebih memilih dukun sebagai tempat untuk memeriksakan kehamilan dengan perhitungan lebih murah dan bias di bayar dengan barang (Barter). Hal ini lebih menonjol di masyarakat kecil di desa, karena di Puskesmas membutuhkan banyak uang ( Meutia, 1998 ).
d. Jarak
Jarak adalah rentang waktu yang di tempuh dari suatu tempat ke tempat lainnya atau yang ditujuh. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka sesorang melakukan pengorbanan dan dapat berupa pengorbanan fisik dan materi. Jarak membatasi kemampuan dan kemauan ibu hamil untuk mencari pelayanan terutama jika sarana transportasi yang tersedia terbatas serta komunikasi yang sulit. Jarak tempat tinggal ibu hamil dengan tempat pelayanan kesehatan sangat suka/malas untuk memeriksakan kehamilanya dengan pertimbangan cape apalagi ibu hamil yang tidak memiliki kendaraan pribadi ( Hartono, 1998 ).
e.  Presepsi Masyarakat
Pandangan masyarakat berbeda–beda di setiap tempat. Di mana pandangan masyarakt kecil di desa lebih mengarah pada kebudayaab daerah masing–masing. Masyarakat lebih memilih dukun dari pada bidan karena dengan alasan dukun lebih bersahabat dengan masyarakat. Pandangan tersebut secara turun temurun masih ada di masyarakat karena petugas kesehatan khususnya bidan belum di tempatkan secara merata di setiap desa.

Cara Penanggulangan
a)        Faktor sosial budaya
Tenaga kesehatan khususnya bidan telah memberikan penyuluhan atau konseling pada ibu hamil tentang manfaat pemeriksaan kehamilan. Masalah sosial budaya dari masyarakat primitive telah berkurang dengan adanya bidan di setiap desa (Meutia, 1998).
b)       Pendidikan
Upaya bidan untuk memberikan penjelasan bagi ibu hamil yang tidak berpendidikan atau tidak mengerti tentang pemeriksaan kehamilan tidak mudah. Diperlukan kesabaran untuk terus mencoba. Bidan menggunakan bahasa pasar atau bahasa yang mudah dimengerti agar msayarakat desa lebih bersahabat dan terbuka untuk menyampaikan semua keluhan dan mau memeriksakan kehamilanya (Salmah,2008).
c)        Ekonomi
Pemerintah telah membuat program Jamkesmas dan Jampersal dengan tujuan untuk meningkatkan askebilitas masyarakat miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan masyarakat secara gratis yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat (Perkasa, 2008).
d)       Jarak
Upaya bidan untuk menanggulangi jarak antara tempat tinggal ibu hamil dengan tempat pelayanan kesehatan adalah kunjungan rumah. Di mana bidan harus mengunjugi setiap rumah ibu hamil di wilayah kerjanya untuk memberikan pelayanan kesehatan.

e)        Presepsi Masyarakat
Presepsi yang masih salah di masyarakat dapat ditanggulangi dengan memberikan penjelasan yang benar dan tepat tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan oleh petugas kesehatan. Selain itu penempatan bidan secara merata di setiap desa oleh pemerintah merupakan langka bijak dan tepat. Bidan harus dapat menjalin kemitraan dengan dukun dan berharap dukun bisa bekerja sama dengan bidan untuk mendorong ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilanya di petugas kesehatan.
Semua upaya tersebut di atas telah di lakukan oleh pemerintah maupun tenaga kesehatan dengan tujuan meningkatkan cakupan K4. Namun kenyataan bahwa cakupan K4 masih saja rendah dan belum mencapai target yang telah ditetapkan dan diharapkan.



E.  .KERANGKA KONSEPTUAL
Ibu Hamil
Pengetahuan Antenatal Care
§  Baik
§  Cukup
§  Kurang
Pendidikan
1.    Sosial Budaya
2.    Ekonomi
3.    Jarak
4.    Persepsi masyarakat
 




Keterangan
                                                                                                                                    : Diteliti

                                                                                                                                    : Tidak diteliti

Gambar 1: Kerangka Konsep Penelitian



BAB III
METODE PENELITIAN

A.   JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif yaitu  penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau  menggambarkan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang manfaat pemeriksaan kehamilan yang dilaksanakan di tempat layanan kesehatan oleh bidan dalam rangka menekan angka kematian ibu. Deskripsi peristiwa dilakukan secara sistimatik dan lebih menekankan pada data faktual dari pada penyimpulan (Nursalam, 2003).

B.   DESAIN PENELITIAN
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode survey yaitu penelitian yang digunakan untuk mengambil sampel dari suatu populasi dengan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data (Efendi, 1995). Penelitian ini mencoba mencari gambaran tentang tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Rewarangga, Kecamatan Ende Timur, Kabupaten Ende.

C.   POPULASI, SAMPEL DAN SAMPLING
1.    Populasi
Populasi adalah setiap subyek dapat berupa manusia, binatang percobaan yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2003). Populasi pada penelitian ini adalah ibu hamil yang ada di wilayah Puskesmas Rewarangga yaitu Kelurahan Rewarangga, Rewarangga Selatan, Desa Kedebodu, Desa Tiwu Tewa, Desa Ndungga dan Kelurahan Lokoboko yang berjumlah 69 orang.
2.    Sampel
Sampel adalah sebagian obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Nursalam, 2003). Penggunaan sampel 10% - 20% untuk subyek dengan  jumlah lebih dari 1000 dan penggunaan sampel 20%-30% untuk subyek kurang dari 1000 (Nursalam, 2003). Pada penelitian ini, sampel yang diambil adalah sebagian ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di  Pukesmas Rewarangga, Poskesdes Ndungga, Polindes Lokoboko, Polindes Tiwu Tewa, Polindes Kedebodu yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi adalah karakteristik sampel yang dapat dimasukan atau layak untuk diteliti (Nursalam, 2003). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
a.    Ibu hamil trimester I, II dan III
b.    Paritas 1,2, 3 dan >3
c.    Ibu hamil yang dapat membaca dan menulis
d.    Ibu hamil sehat jasmani dan rohani
e.    Ibu hamil yang siap untuk diteliti
3.    Sampling
Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi (Nursalam, 2003). Penelitian  ini menggunakan Puposive Sampling, yaitu suatu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2003). Jumlah sampel yang diteliti adalah 20 % dari populasi yaitu berjumlah 69, sebanyak 14 orang ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Rewarangga. Besar sampel berdasarkan berdasarkan perhitungan 20% dari populasi. Cara perhitungan sebagai berikut:
N         = 69
n                      = 20%
n                      = 20% X 69
n                      = 13.8
Jadi besarnya sampel adalah 13.8  =  14 orang
Keterangan               N:        Populasi
                                                                                                            n : Sampel

D. VARIABEL PENELITIAN
Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah variabel tunggal. Menurut Nawawi dan Hadari (1992:45) variabel tunggal adalah variabel yang hanya mengungkapkan variabel untuk dideskripsikan unsur atau faktor-faktor di dalam setiap gejala termasuk variabel tersebut, penelitian seperti ini disebut variabel tunggal. Jadi yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu hamil tentang antenatal care selama kehamilan.
E.  DEFENISI OPERASIONAL

Tabel 1
Definisi Operasional Variabel Penelitian

No
Jenis variabel
Definisi Operasional
Alat Ukur
Skala
Cara Pengkukuran
1







2

·      Pengetahuan Ibu Hamil tentang ANC





·      Faktor yang mempengaruhi Cakupan K4
Pemahaman Ibu mengenai proses kehamilan, pemeriksaan dan persiapan persalinan


1.  Sosial Budaya
2.  Pendidikan
3.  Ekonomi
4.  Jarak
5.  Persepsi masyarakat

Pedoman







Pedoman








Nominal








Tema


F.   PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
1.    Pengumpulan Data
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang dibuat peneliti dalam bentuk muliple chois question yaitu pertanyaan yang menyediakan beberapa jawaban alternatif dan responden hanya memilih satu diantara beberapa jabawan yang sesuai dengan pendapatnya (Notoatmodjo, 2002)
Caranya adalah sebagai berikut:
a)    Peneliti menjelaskan tujuan penelitian
b)    Responden mengisi lembar persetujuan
c)    Peneliti menjelaskan pada responden tentang pengisian kuesioner
d)    Responden mengisi kuesioner pertanyaan (jika jawaban benar mendapat nilai 1 dan jawaban salah mendapat nilai 0)
2.    Pengolahan data
Setelah data dikumpulkan masih berupa data mentah, data tersebut harus diolah hingga membentuk dan menjadi informasi yang berguna bagi peneliti. Adapun langkah-langkah dalam mengolah data sebagai berikut:
a)    Coding
Memberi kode jawaban responden pada lembar kuesioner
b)    Editing
Memeriksa kembali jawaban responden, apakah sudah sesuai dengan pilihan jawaban yang sudah disediakan atau dengan kata lain apakah data sudah siap untuk diolah lebih lanjut.
c)            Tabulating
Selanjutnya data yang diklasifikasikan dimasukan ke tabel, grafik atau uraian untuk menghitung jumlah atau frekwensi. Data atau nilai instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data adalah kuesioner yang disusun sendiri oleh peneliti dengan close ended question jenis multiple chois, yaitu pertanyaan yang menyediakan beberapa alternatif jawaban dari responden dan responden hanya memilih satu jawaban yang sesuai dengan pendapatnya (Notoatmodjo, 2002).
d)            Analisa data
Setelah data diolah maka langkah berikutnya adalah analisis data. Dalam penelitian ini analisis data menggunakan tabel frekwensi yang telah dikumpulkan, diklasifikasikan dari tabulasi dalam bentuk tabel frekwensi, kemudian frekwensi jawaban yang muncul dibandingkan dengan jumlah responden dikalikan 100% dan hasil berupa porsentase. Data kemudian disajikan dalam bentuk grafik atau diagram kemudian dinarasikan. Responden dengan pengetahuan baik nilainya 75-100%, pengetahuan sedang 55-74% dan pengetahuan kurang yaitu < 55%. Data tersebut dapat dirumuskan:

      Skor yang diperoleh
N:                                                                                                                                                      X 100%
    Skor maksimum

Keterangan:
N: Hasil Presentase

G.    ETIKA PENELITIAN

Dalam melakukan penelitian, peneliti mengajukan permohonan ijin kepada Kepala Puskesmas Rewarangga untuk mendapat persetujuan, setelah disetujui kemudian penulis menyebarkan kuesioner kepada subyek dengan menekan pada etika yang meliputi:
1.  Informed Consent
Lembar persetujuan penelitian diberikan pada responden adalah subyek mengetahui maksud dan tujuan penelitian serta dampak yang diteliti selama pengumpulan data.
2.      Anonomity (tanpa nama)
Untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek, peneliti tidak akan mencantumkan nama subyek pada lembar pengumpulan data (kuesioner) yang diisi oleh subyek. Lembar tersebut hanya diberi kode tertentu dan hanya dapat dimengerti oleh peneliti sendiri.
3.      Confidentialy
Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh subyek dijamin oleh peneliti (Nursalam, 2003)




BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil Penelitian
1.       Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Puskesmas Rewarangga merupakan salah satu Unit Pelaksana Tehnis Daerah Kesehatan Kecamatan Ende Timur dengan wilayah kerja meliputi.  Luas wilayah Kerja Puskesmas Rewarangga 42.810 KM2 dengan jumlah penduduk 4.755 jiwa dengan batas-batasnya sebagai berikut:
a.               Sebelah Barat dengan Wilayah Puskesmas Kota
b.               Sebelah Selatan dengan Wilayah Puskesmas Ngalupolo
c.                Sebelah Utara dengan Wilayah Puskesmas Nuabosi
d.               Sebelah Timur dengan Wilayah Puskesmas Saga
Data ibu hamil diambil bulan April 2013 yaitu berjumlah 138 orang terdiri dari Bumil K4 Kelurahan Rewarangga 34 orang, Kelurahan Rewarangga Selatan 51 orang, Kelurahan Lokoboko 22 orang, Desa Ndungga 12 orang, Desa Tiwu Tewa 8 orang dan Desa Kedebodu 11 orang dipilih secara acak hingga jumlah populasi 69 orang, dengan besar sampel 20 persen dari populasi yaitu 14 orang. Data dikumpulkan dengan menggunakan pedoman wawancara. 

2.       Karakteristik Subyek Penelitian
Ciri khas responden menggambarkan keadaan sampel yang menjadi unit analisis. Jumlah responden yang akan dilakukan analisis sebanyak 14 orang dan meliputi :
a.               Umur
Distribusi frekwensi ibu hamil K4 di Puskesmas Rewarangga




Tabel 3
Karakteristik Ibu Hamil K4 Berdasarkan Golongan Umur di Puskesmas Rewarangga
Periode April 2013
No
Golongan Umur
F
%
1
< 20 Tahun
4
28.57
2
20 – 35 Tahun
7
50
3
>35 Tahun
3
21.43
Total
14
100

Tabel di atas menunjukan bahwa dari 8 responden terdapat 7 orang (50%) yang berumur 20 – 35 tahun adalah usia reproduktif, sedangkan 4 orang (28.57%) responden yang berumur kurang dari 20 tahun dan 3 orang (21.43%) lebih dari 35 tahun merupakan ibu yang digolongkan dengan faktor resiko dan perlu dilakukan pemantauan sehingga dapat mengurangi faktor resiko yang timbul saat persalinan.
b.  Tingkat Pendidikan
Distribusi tingkat pendidikan ibu hamil K4 Puskesmas Rewarangga
Tabel 4
Karakteristik Ibu Hamil K4 Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Puskesmas Rewarangga
Periode April 2013
No
Tingkat Pendidikan
F
%
1
SD
7
50
2
SMP
4
28.58
3
SMU
2
14.28
4
PT
1
7.14
Total
14
100
Dari tabel di atas menunjukan bahwa jumlah responden berpendidikan SD sebanyak 7 orang (50%), SMP 4 orang (28.58%), SMU 2 orang ( 14.28%), sedangkan responden yang berpendidikan PT  1 orang (7.14%).
c.   Paritas
Semakin banyak jumlah anak tentunya mempengaruhi keadaan kesehatan ibu dan anak itu sendiri. Upaya pendekatan melalui program KB sudah dan terus dilakukan oleh Bidan maupun oleh kader Posyandu aktif. Tanpa kesadaran dan pengertian dari pasangan suami istri maka segala upaya yang dilakukan untuk menjarangkan kehamilan tetap sia-sia. Berikut adalah tabel responden berdasarkan paritas.
Tabel 5
Karakteristik Ibu Hamil K4 Berdasarkan Paritas < GII di Puskesmas Rewarangga
Periode April 2013

No
Umur
GI-GII
%
1
< 20 Tahun
1
7.14
2
20 – 35 Tahun
9
64.29
3
>35 Tahun
4
28.57
Total
14
100
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa responden dengan jumlah kehamilan pertama dan kedua yang berusia antara 20 – 35 tahun berjumlah 9 orang (64.29%) sedangkan  berusia < 20 tahun 1 orang ( 7.14%)  dan responden yang telah berusia diatas 5 tahun sebanyak 4 orang ( 28.57) merupakan ibu beresiko.



Tabel 6
Karakteristik Ibu Hamil K4 Berdasarkan Paritas > GII di Puskesmas Rewarangga
Periode April 2013

No
Umur
> GII
%
1
< 20 Tahun
-
0
2
20 – 35 Tahun
5
35.71
3
>35 Tahun
9
64.29
Total
14
100
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa responden dengan jumlah kehamilan lebih dari  kali dengan usia 20 – 35 tahun berjumlah 5 orang (35.71%) dan  kehamilan dengan usia diatas 35 kali sebanyak 9 orang (64.29%) dan beresiko serta perlu perhatian yang serius dari ibu maupun tenaga kesehatan.

3.     Pengetahuan Ibu Hamil tentang Antenatal Care
Masa kehamilan merupakan masa yang rawan kesehatan, baik kesehatan ibu yang mengandung maupun janin yang dikandungnya sehingga dalam masa kehamilan perlu dilakukan pemeriksaan secara teratur. Hal ini dilakukan guna menghindari gangguan sedini mungkin dari segala sesuatu yang membahayakan terhadap kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya.
Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum dan bidan) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya, yang mengikuti pedoman pelayanan antenatal yang ada diutamakan pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K1 dan K4.
Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trisemester pertama, sekali pada trisemester kedua dan dua kali pada trisemester ketiga. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan kepada ibu hamil.




4.      
Secara umum upaya-upaya yang telah dilakukan dalam pembangunan kesehatan telah menunjukkan hasil yang cukup baik, namun masih ada beberapa program kesehatan yang belum mencapai hasil yang optimal. Keberhasilan dalam pencapaian upaya pembangunan kesehatan di Kabupaten Ende, adalah sebagai berikut:
1. Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 5 per 1000 Kelahiran Hidup yaitu 29 bayi yang meninggal dari 5442 Kelahiran Hidup.
2. Angka Kematian Balita (AKABA) di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 1 per 1000 Kelahiran Hidup atau sebanyak 5 balita yang meninggal.
3. Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 165 per 100.000 Kelahiran Hidup atau sebanyak 9 orang ibu melahirkan yang meninggal dari 5442 Kelahiran Hidup.
14. Persentase Berat bayi Lahir Rendah (BBLR) di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 2,43%
15. Prevalensi Balita Gizi Kurang di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 11,26%.
16. Prevalensi Balita Gizi Buruk di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 0,87%.
17. Kunjungan Ibu Hamil (K4) di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 66,54%
18. Persentase Persalinan ditolong oleh Tenaga Kesehatan di Kabupaten Ende sebesar 79.83%
19. Persentase Pelayanan Ibu Nifas di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 65,29%.
20. Persentase Ibu Hamil Risiko Tinggi/Komplikasi yang ditangani di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 50,97%.
21. Persentase Neonatal Risiko Tinggi di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 22,45%.
24. Kunjungan Neonatus 3 kali (KN Lengkap) di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 81,64%.
25. Kunjungan Bayi (minimal 4 kali) di Kabupaten Ende tahun 2011 mencapai 82,05%.
26. Cakupan persentase desa/kelurahan UCI di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 50%.
36. Persentase penduduk miskin yang dicakup Askeskin/Jamkesmas di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 100%.
37. Cakupan masyarakat miskin yang mendapat pelayanan rawat jalan di sarana kesehatan strata 1 di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 88,85% dan cakupan masyarakat miskin yang mendapat pelayanan rawat inap di sarana kesehatan strata 1 sebesar 0,90%.
38. Cakupan masyarakat miskin yang mendapat pelayanan rawat jalan di sarana kesehatan strata 2 dan 3 di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 0,03% dan cakupan masyarakat miskin yang mendapat pelayanan rawat inap di sarana kesehatan strata 2 dan 3 sebesar 0,01%.
48. Jumlah Posyandu di Kabupaten Ende tahun 2011 sebesar 586 buah, sedangkan persentase Posyandu Aktif sebesar 7,85% dengan Rasio Posyandu per 100 balita sebesar 2,06 per 100 balita.
49. Jumlah Desa Siaga di Kabupaten Ende tahun 2011 sebanyak 44 desa dengan persentase Desa Siaga Aktif sebesar 47,73%.
d) Jumlah bidan 185 orang, dengan rasio 71 per 100.000 penduduk (target IS 2010 : 100 per 100.000 penduduk)
e) Jumlah perawat 390 orang, dengan rasio 150 per 100.000 penduduk (target IS 2010 : 117,5 per 100.000 penduduk)





Angka kematian Ibu senantiasa menjadi indikator keberhasilan pembangunan sektor
kesehatan, AKI mengacu pada jumlah kematian Ibu yang terkait dengan proses kehamilan,
persalinan dan nifas. Untuk melihat kecenderungan AKI di Indonesia secara konsisten digunakan
data hasil SKRT dan SDKI. AKI menurun dari 450 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1986
menjadi 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1992, selanjutnya menurun menjadi 373 per
100.000 kelahiran hidup pada tahun 1995. Pada tahun 2002 – 2003 AKI sebesar 307 per 100.000
kelahiran hidup diperoleh dari hasil SDKI 2002 - 2003, dan kemudian menurun lagi menjadi 228 per
100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (SDKI,2007). Walaupun cenderung terus menurun, namun
bila dibandingkan dengan target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2010, yaitu sebesar
125 per 100.000 kelahiran hidup, maka perlu upaya-upaya luar biasa untuk mengatasi
permasalahan ini.
AKI Provinsi NTT pada periode 2004 – 2007 cenderung mengalami penurunan yang cukup
bermakna. Pada tahun 2004 AKI NTT sebesar 554 per 100.000 kelahiran hidup (Surkesnas) dan
diperkirakan menurun menjadi 306 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2007 (proyeksi linier
kematian ibu di kabupaten/kota se provinsi NTT). Estimasi penurunan AKI NTT ini lebih rendah dari
angka nasional 228 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2007). Untuk mengatasi masalah ini maka
Provinsi NTT telah menginisiasi terobosan-terobosan dengan Revolusi KIA dengan motto semua
ibu melahirkan di Fasiitas Kesehatan yang memadai. Dengan capaian indikator antaranya adalah



Pelayanan Antenatal (K1 dan K4)



  • Pemeriksaan antenatal care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil. Sehingga mampu menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 1998).
  • Kunjungan Antenatal Care (ANC) adalah kunjungan ibu hamil ke bidan tahu dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal. Pada stiap kunjungan antenatal (ANC), petugas mengumpulkan dan menganalisis data mengenai kondisi ibu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk mendapatkan diagnosis kehamilan intrauterine, serta ada tidaknya masalah atau komplikasi (Saifudin, 2002).
  • Pemeriksaan kehamilan (ANC) merupakan pemeriksaan ibu hamil baik fisik dan mental serta menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa nifas, sehingga keadaan mereka post partum sehat dan normal, tidak hanya fisik tetapi juga mental (Prawiroharjo, 1999).
  • Kunjungan ibu hamil atau ANC adalah pertemuan antara bidan dengan ibu hamil dangan kegiatan mempertukarkan informasi ibu dan bidan. Serta observasi selain pemeriksaan fisik, pemeriksaan umum dan kontak sosial untuk mengkaji kesehatan dan kesejahteraan umumnya (Salmah, 2006).
  • Kunjungan Antental Care (ANC) adalah kontak ibu hamil dengan
  • pemberi perawatan/asuhan dalam hal mengkaji kesehatan dan
  • kesejahteraan bayi serta kesempatan untuk memperoleh informasi dan memberi informasi bagi ibu dan petugas kesehatan (Henderson, 2006).



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar